Pengembangan dan Inovasi Teori Pembelajaran PAI
1.
Pengertian Teori Pembelajaran PAI
teori pembelajaran adalah sebuah proses perubahan
perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau percobaan. Teori ini memperoleh
sebuah ilmu atau pengetahuan yang diperoleh dari proses belajar
Dalam pengertian umum, teori sering dikaitkan dengan
seperangkat konsep, ide dan prosedur yang bisa dipelajari, dianalisa serta di
verifkasi kebenarannya. Jadi, teori belajar adalah kumpulan konsep, ide,
prosedur yang didalamnya cara mempraktikkan proses belajar. Antara guru dan siswa
dan elemen-elemen lainnya yang berkaitan dengan kegiatan belajar.
Teori pembelajaran sendiri dapat diartikan sebagai sebuah
teori yang di dalamnya memuat tata cara mengenai cara seorang guru
mengaplikasikan kegiatan belajar-mengajar yang nantinya akan diterapkan kepada
muridnya baik di dalam maupun di luar kelas.
Sedangkan pendidikan Agama Islam adalah suatu
usaha untuk menimba dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami
ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan islam
sebagai pandangan hidup. Jadi, pendidikan agama yang merupakan usaha sadar yang dilakukan
pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta
didik untuk meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Agama Islam
Jadi, Teori pembelajaran pendidikan Agama Islam yaitu Proses membelajarkan siswa menggunakan asas
pendidikan dan teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan
pendidikan Agama Islam yang didalamnya terdapat kegiatan komunikasi dua arah yang dilakukan
pendidik kepada pesrta didik dengan menggunakan bahan atau materi-materi pendidikan Agama islam
2.
Karakteristik
Teori Pembelajaran PAI
Dari beberapa pengertian belajar
tersebut di atas, kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Moh. Surya
(1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu:
·
Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional); Perubahan perilaku
yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang
bersangkutan.
·
Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu); Bertambahnya pengetahuan atau
keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan
dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya.
·
Perubahan yang fungsional; Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat
dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk
kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang.
·
Perubahan yang bersifat positif; Perubahan perilaku yang terjadi bersifat
normatif dan menunjukkan ke arah kemajuan.
·
Perubahan yang bersifat aktif; Untuk memperoleh perilaku yang baru,
individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan.
·
Perubahan yang bersifat permanen; Perubahan perilaku yang diperoleh dari
proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya.
·
Perubahan yang bertujuan dan terarah; Individu melakukan kegiatan belajar
pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah
maupun jangka panjang.
·
Perubahan perilaku secara keseluruhan; Perubahan perilaku belajar bukan
hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula
perubahan dalam sikap dan keterampilannya.
3. Tujuan Pengembangan dan Inovasi Teori Pembelajaran PAI
Secara umum tujuan pengembangan
teori pendidikan agama Islam di sekolah atau madrasah untuk menumbuhkan dan
meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan,
pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi
manusia yang terus berkembang dalam keimanan, ketaqwaannya, berbangsa dan
bernegara serta untuk dapat melanjudkan pada jenjang pendidikan yang lebih
tinggi”(GBPP PAI, 1994)10. Secara umum, tujuan pendidikan Islam terbagi kepada:
tujuan umum, tujuan sementara, tujuan akhir, dan tujuan operasional. Tujuan
umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan baik
dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan sementara adalah tujuan yang
ingin dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang
direncanakan dengan sebuah kurikulum. Tujuan akhir adalah tujuan yang
dikehendaki agar peserta didik menjadi manusia-manusia sempurna (insan kamil)
setelah ia menghabisi sisa umurnya. Sementara tujuan operasional adalah tujuan
praktis yang akan dicapai dengan sejumlah pendidikan tertentu11. Dari beberpa
tujuan tersebut dapat ditarik kesimpulan beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan
dan dituju oleh kegiatan pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu: a. Dimensi
keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam.
4. Strategi Pengembangan dan Inovasi Teori Pembelajaran PAI
Pengembangan strategi pembelajaran memerlukan
landasan teori agar hasil pengembangannya dapat terarah dan sesuai apa yang
diinginkan teori yang menjadi landasan pengembangan strategi pembelajaran,
yaitu:
1. Pengalaman belajar
yang dikembangkan oleh Gagne Discovery
learning yang dikembangkan oleh Bruner, yang mengarahkan proses pembelajaran
dimulai dari problem solving dari pendidik untuk meningkatkan kemampuan
peseerta didik dalam mengkaji dan mendeskripsikan pemecahan masalahnya
2. Advance Organizers yang dikembangkan oleh Ausubel, suatu
argumen yang memberikan arahan dan membantu pesrta didik untuk mempersiapkan
pembelajaran dan memberikan pedoman korelasi antara apa yang akan dipelajari
dengan konstruk (konsep) atau ide yang lebih komprehensif
Dalam mengembangkan strategi pembelajaran PAI
adalah mengubah paradigma atau cara pandang kita terhadap pembelajaran PAI itu
sendiri. Oleh karena paradigma merupakan landasan ke mana arah dan tujuan
pembelajaran itu. Pada sebagian atau bahkan secara umum pendidik PAI sekarang
ini, paradigma yang dikembangkan adalah paradigma tekstual yang stagnan
Pada normatif tanpa mengkaji secara
kontekstual (apa yang menjadi kebutuhan peserta didik dalam menghadapi
kehidupannya kelak setelah tamat). Sehingga pembelajaran PAI di
sekolah/madrasah kurang bermakna pada peserta didik. Bahkan terkesan hanya
mementingkan pada nilai kognitifnya sehingga peserta didik tersebut dapat lulus
dalam ujian. Senada hal tersebut, Musa Asy¶arie menjelaskan berikut ini; bahwa
pendidikan sekolah kita seharusnya dikembalikan kepada realitas dinamika
masyarakatnya, bukan menjadi menara gading yang tercabut dari akar kehidupan
masyarakatnya sendiri.
Pendidikan sekolah bukan untuk mengajarkan
mimpi dan anti realitas, tetapi menjadi bagian yang sah dari realitas hidup
masyarakatnya sendiri untuk mencari jawab atas proses dialektika yang terus
bergolak dalam kehidupan masyarakatnya. Uraian Musa Asy’arie ini terkait
pendidikan secara umum, akan tetapi itu juga yang terjadi pada PAI; baik dari
segi materinya maupun dari segi pengembangan strategi pembelajaran.
Dalam era digital sekarang ini, perlu
membangun paradigma atau pendekatan secara kontekstual (mengkaji dalil-dalil
syar’i sebagai sumber materi PAI sesuai dengan tuntutan zaman/realiatas
masyarakat) dan integratif (keterpaduan nilai sains dan teknologi dan
nilai-nilai iman dan taqwa/ IPTEK dan IMTAQ) dalam mengembangkan strategi
pembelajaran PAI.
5. Langkah-Langkah Pengembangan dan Inovasi Teori
Pembelajaran PAI
Langkah-langkah dalam pengembangan dan teori
inovasi PAI atau desain pembelajaran antara lain :
1. Mengidentifikasi tujuan umum pengajaran.
Sebagaimana kita ketahui bahwa
sasaran akhir dari suatu progam pembelajaran adalah tercapainya tujuan umum
pembelajaran tersebut. Oleh karena itu, setiap perancang harus mempertimbangkan
secara mendalam tentang rumusan tujuan umum pengajaran yang akan ditentukannya.
Mempertimbangkan secara mendalam untuk merumuskan tujuan umum pembelajaran
harus mempertimbangkan karakteristik bidang studi, karakteristik siswa, dan
kondisi lapangan. Tujuan pembelajaran sangat penting dalam proses kegiatan
belajar mengajar, sebab tujuan pembelajaran yang dirumuskan secara spesifik dan
jelas, akan memberikan keuntungan kepada: a. Siswa. Tujuan umum pembelajaran
yang jelas dapat membantu siswa untuk mengatur waktu dan memusatkan perhatian
pada tujuan yang ingin di capai. b. Guru. Tujuan umum pembelajaran dapat
membantu guru untuk mengatur kegiatan belajar mengajar , metode, dan strategi
untuk mencapai tujuan tersebut. c. Evaluator. Tujuan umum pembelajaran dapat
membantu evaluator untuk dapat menyusun tes sesuai dengan apa yang harus
dicapai oleh anak didik. Rumusan tujuan umum pembelajaran menurut dick and
carrey (1985) harus jelas, dapat di ukur, dan berbentuk tingkah laku.
- Melakukan
analisis pembelajaran
Analisi pembelajaran perlu
dilakukan untuk mengembangkan metode pembelajaran. Dick dan Carrey (1985)
mengatakan bahwa tujuan pengajaran yang telah diidentifikasi perlu dianalisis
untuk mengenali keterampilan–keterampilan bawahan (subordinate skill) yang
mengharuskan anak didik belajar menguasainya dan langkah-langkah prosedural
bawahan yang ada harus diikuti anak didik untuk dapat belajar tertentu.
Menganalisis subordinate skill sangatlah diperlukan, karna apabila keterampilan
bawahan yang seharusnya dikuasai tidak di ajarkan, maka banyak anak didik tidak
akan memiliki latar belakang yang diperlukan untuk mencapai tujuan, dengan
demikian pembelajaran menjadi tidak efektif. Sebaliknya. Apabila keterampilan
bawahan yang berlebihan, pembelajaran akan memakan waktu lebih lama dari semestinya,dan
keterampilan yang tidak perlu diajarkan maka mengganggu anak didik dalam
belajar menguasai keterampilan yang diperlukan.
- Mengidentifikasi
tingkah laku masukan dan karakteristik siswa.
Mengidentifikasi tingkah laku
masukan dan karakteristik siswa sangat perlu dilakukan untuk mengetahui
kualitas perseorangan untuk dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam
mempreskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran. Aspek-aspek yang ungkap
dalam kegiatan ini bisa berupa bakat, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan
berfikir, minat, atau kemampuan awal. Untuk mengungkap kemampuan awal mereka
dapat di lakukan dengan pemberian tes dari tingkat bawah atau tes yang
berkaitan materi ajar sesuai panduan kurikulum.
- Merumuskan
tujuan performansi
Dick dan Carrey menyatakan bahwa
tujuan performansi terdiri atas: a.Tujuan harus menguraikan apa yang akan dapat
dikerjakan atau diperbuat oleh anak didik. b. Menyebutkan tujuan, memberikan
kondisi atau keadaan yang menjadi syarat, yang hadir waktu anak didik berbuat.
c.Menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai perbuatan anak didik yang
dimaksudkan pada tujuan. Sedangkan fungsi performansi adalah: a.Menyediakan
suatu sarana dalam kaitannya dengan pembelajaran untuk mencapai tujuan.
b.Menyediakan suatu sarana berdasarkan suatu kondisi belajar yang sesuai.
c.Memberikan arah dalam mengembangkan pengukuran atau penilaian. d.Membantu
anak didik dalam usaha belajarnya.
- Mengembangkan
butir-butir tes acuan patokan
Tes acuan patokan terdiri atas
(soal-soal) yang secara langsung mengukur istilah patokan yang di deskripsikan
dalam suatu perangkap tujuan khusus. Istilah patokan digunakan karena soal-soal
tes merupakan rambu-rambu untuk menentukan kelayakan penampilan siswa dalam
tujuan, maksudnya keberhasilan siswa dalam tes ini menentukan apakah siswa
telah mencapai tujuan atau belum. Ada empat tes acuan patokan yang dapat
dipakai yakni:
a.Tes antri behavior merupakan tes
acuan patokan untuk mengukur keterampilan sebagaimana adanya pada permulaan
pembelajaran.
b.Pretes merupakan tes acuan patokan yang
berguna bagi keperluan tujuan –tujuan yang telah dirancang sehingga guru dapat
mengetahui sejauh mana pengetahuan anak didik terhadap semua keterampilan.
c.Tes sisipan merupakan tes acuan patokan yang
melayani dua fungsi penting, yaitu pertama untuk mengetes setelah satu atau dua
tujuan pembelajaran di ajarkan sebelum tes dilaksanakan dan kedua untuk
mengetes kemajuan anak didik setelah dilakukan pembelajaran.
Dengan demikian dapat dilakukan remedial yang
dibutuhkan sebelum pascates yang lebih formal. d.Pasca test atau post test
merupakan tes acuan patokan yang mencakup seluruh tujuan pembelajaran yang
mencerminkan tingkat perolehan belajar sehingga dengan demikian dapat
diidentufikasi bagian-bagian mana di antara tujuan pembelajaran yang belum
tercapai.
- Mengembangkan
strategi pembelajaran
Strategi pembelajaran menjelaskan
komponen umum suatu perangkat material pembelajaran dan mengembangkan materi
secara prosedural harus berdasarkan karakteristik siswa. Alasannya adalah
karena meterial pembelajaran yang dikembangkan pada akhirnya dimaksudkan untuk
membantu siswa agar memperoleh kemudahan dalam belajar. Untuk itu sebelum
mengembangkan materi seorang guru perlu melihat kembali karakteristik siswa.
Dalam marencanakan satu unit pembelajaran ada tiga tahap sebagaimana berikut
ini: a.Mengurutkan dan merumpunkan tujuan kedalam pembelajaran. b.Merencanakan
prapembelajaran, pengetesan dan kegiatan tidak lanjut. c.Menyusu alokasi waktu
berdasarkan strategi pembelajaran.
- Mengembangkan
dan memilih material pembelajaran
Dick dan Carrey menyarankan ada
tiga pola yang dapat diikuti oleh pengajar untuk merancang atau menyampaikan
pembelajaran sebagaimana berikut: a.Pengajar merancang bahan pembelajaran
individual. Semua tahap pembelajaran dimasukkam kedalam bahan, kecuali pretes
dan pascatest. b.Pengajar memilih dan mengubah bahan yang ada agar sesuai
dengan strategi pembelajaran. Peran pengajar akan bertambah dalam penyampaikan
pembelajaran. Beberapa bahan mungkin disampaikan tanpa bantuan pengajar, jika
tidak ada maka pengajar harus memberi penjelasan c. Pengajar tidak memakai
bahan, tetapi menyampaikan semua pembelajaran menurut strategi pembelajaran
yang telah disusunnya. Pengajar menggunakan strategi pembelajarannya sebagai
pedoman, termasuk latihan dan kegiatan kelompok. Kelebihan dari strategi ini
adalah pengajar dapat dengan segera memperbaiki dan memperbaharui pembelajaran
jika terjadi perubahab isi. Adapun kelemahannya adalah sebagian besar waktu
tersita untuk menyampaikan informasi sehingga sedikit sekali waktu untuk
membantu anak didik.
- Mendesain
dan melaksanakan evaluasi formatif
Evaluasi formatif perlu dilakukan
karena evaluasi ini adalah salah satu langkah dalam mengembangkan desain
pembelajaran yang berfungsi untuk mengumpulkan data untuk perbaikan
pembelajaran. Dengan kata lain, melalui evaluasi formatif akan ditemukan
kekurangan-kekurangan yang terdapat pada kegiatan pembelajaran sehingga
kekurangan-kekurangannya dapat diperbaiki. Ada tiga fase penilaian formatif
yakni: a. Fase perorangan atau fase klinis. Pada fase ini perancang bekerja
dengan siswa secara perseorangan untuk memperoleh data guna menyempurnakan
bahan pembelajaran. b. Fase kelompok kecil, yaitu sekelompok siswa yang terdiri
atas delapan sampai sepuluh orang yang merupakan wakil cerminan populasi
sasaran mempelajari bahan secara mandiri dan kemudian diuji untuk memperoleh
data yang diperlukan. c. Fase uji lapangan. Fase ini bisa diikuti oleh banyak
siswa. Tekanan dalam uji coba lapangan ini adalah pada pengujian prosedur yang
dilakukan untuk memberlakukan pembelajaran itu dalam suatu keadaan yang mungkin
sangat nyata .
- Merevisi
bahan pembelajaran
Merevisi bahan pembelajaran perlu
dilakukan untuk menyempurnakan bahan pembelajaran sehingga lebih menarik. Ada
dua revisi yang perlu dipertimbangkan yaitu: a. Revisi terhadap isi atau
substansi bahan pembelajaran agar lebih cermat sebagai alat belajar. b. Revisi
terhadap cara-cara yang dipakai dalam menggunakan bahan pembelajaran.
- Mendesain
dan melaksanakan evaluasi sumatif
Evaluasi sumatif perlu dilakukan
karena melalui evaluasi sumatif dapat ditetapka atau diberikan nilai apakah
suatu desain pembelajaran, dimana dasar keputusan penilaian didasarkan pada
keefektifan dan efisiensi dalam kegiatan belajar mengajar, oleh karena itu
evaluasi sumatif diarahkan pada keberhasilan pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan, dan di perlihatkan oleh unjuk kerja siswa. Apabila semua tujuan
sudah dapat di capai, efektifitas pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam mata
pelajaran tertentu dianggap berhasil dengan baik
6. Contoh-Contoh Hasil Pengembangan dan Inovasi Model
Pembelajaran PAI dalam Pendidikan Era Society 5.0
Dalam konteks teknologi pembelajaran,
pengembangan dan inovasi mengacu
kepada pemanfaatan teknologi canggih, baik perangkat
lunak (software) maupun
perangkat keras (hardware)
dalam proses pembelajaran. Aplikasi
teknologi baru ini
bertujuan untuk meningkatkan
mutu, efektivitas dan efisiensi
pembelajaran. Metode dan
strategi juga menjadi
sebuah inovasi dalam pembelajaran yang selalu dikembangkan
oleh pelaku dunia pendidikan.
Misalnya, di
sekolah melakukan Inovasi
dalam pembelajaran materi pendidian agama islam dengan
memanfaatkan teknologi informasi
dalam pembelajarannya. Sebagai contohnya adalah
dengan memanfaatkan layanan internet
yang ada di
sekolah sebagai penunjang peserta
didik untuk menambah
wawasan materi pendidikan
Agama islam, dengan bentuk
pembelajaran Web Enhance
Course yang menjadikan
internet sebagai penunjang kegiatan
belajar mengajar di
kelas.
Inovasi pembelajaran ini juga
bisa dilakukan dengan berbagai
pendekatan, bahkan saat
ini banyak game
danmaupun aplikasi edukasi
yang sangat membantu
dan mendukung proses
pembelajaran jarak jauh
dengan pemanfaatan akses internet.Pada pembelajaran pendidikan agama
islam di era masyarakat 5.0, seorang pendidik perlu memiliki
pengetahuan teknologi (technologicalknowledge), yakni
pengetahuan tentang
bagaimana menggunakan hardware
dan software dan
menghubungkan antara keduanya
Inovasi pembelajaran
pendidikan agama islam
yang dilakukan adalahPertama, kemampuan HOTS
dalam proses pembelajaran.
HOTS (Higher, Order,
Thinking, Skills )merupakan kemampuan
dalam memecahkan masalah
secara kompleks,berpikir kritis
dan kreativitas. Penerapan HOTS
dapat dilakukan dengan
mengenalkan dunia nyata
kepada peserta didik dengan permasalah yang ada. Seperti masalah
lingkungan dan kesehatan serta pemanfaatan
ilmu pengetahuan dan
teknologi. sehingga peserta
didik harapnya dapat menganalisi serta
memecahkan masalah tersebut.
Daftar pustaka
Goze Isno. “Pembelajaran PAI Berbasis ICT”,
dalam http://isnoe82.blogspot.com. Diakses pada 16 September 2021 pukul 20.15
WIB
Drs. Harjanto, Perecanaan Pengajaran,
(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997), hal 79-83
Sri Anitah W., Strategi Pembelajaran,
PEFI4201/MODUL 1, t.th., 1.5.
Zakiyak Daradjat., h.86
https://adoc.pub/queue/bab-ii-kajian-teori-mengandung-ketentuan-ketentuan-keimanan-.html
https://www.websitependidikan.com/2017/10/teori-pembelajaran.html
Komentar
Posting Komentar